Kamis, 10 Februari 2011

Tiga Komponen yang Harus Dipertimbangkan dalam Penanggulangan Tingkah Laku Anak (TRIAD CONCERN)

Dokter Gigi menjadi Bagian atau Komponen yang harus Diperimbangkan Dalam Penanggulangan Tingkah Laku Anak

Menurut ahli psikologi usia anak terdiri dari beberapa tingkatan yaitu usia bayi, anak, prasekolah, sekolah, dan remaja. Beberapa pendekatan dalam menerapkan suatu perilaku dan kebiasaan dapat diterapkan pada masing-masing kelompok tersebut. Pengetahuan para dokter gigi mengenai perkembangan perilaku anak merupakan hal penting di dalam melaksanakan program pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.

Rasa takut merupakan suatu mekanisme perlindungan diri dan bukan merupakan gejala abnormal, karena secara naluriah seorang anak merasa takut terhadap sesuatu yang asing baginya. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan pengertian juga kepercayaan yang kurang terhadap dirinya sendiri serta anak sering memutarbalikkan dan membesar-besarkan kenyataan, sehingga ia melihat bentuk-bentuk bahaya yang sebenarnya tidak ada.

Tiga Komponen yang Harus Dipertimbangkan dalam Penanggulangan Tingkah Laku Anak (TRIAD CONCERN)

  1. PASIEN / ANAK

Pasien anak adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan baik secara langsung

maupun tidak langsung kepada dokter gigi.

  1. ORANG TUA

Orangtua harus mampu memberikan pengertian juga kepercayaan kepada anaknya. Tindakan orangtua yang tepat dan terarah akan sangat membantu berhasilnya suatu perawatan gigi. Terkadang beberapa orangtua tidak menyadari bahwa mereka mempunyai peranan dalam mewujudkan tingkah laku anak agar mau datang ke dokter gigi. Orangtua dapat mencoba cara mengenalkan dokter gigi kepada anak, yaitu dengan mengajak anak ikut serta saat ibu atau ayahnya memeriksakan gigi.

  1. DOKTER GIGI

Dokter gigi merupakan petugas kesehatan yang bertugas untuk merawat pasien (anak). Dokter gigi anak bekerja dengan tujuan pencegahan masalah-masalah kesehatan gigi sebelum timbul suatu masalah dalam mulut, dan melakukan perawatan apabila terdapat kelainan pada rongga mulut. Dalam hal ini, ia bekerja sama dengan orang tua anak untuk merawat kesehatan mulut anak.

Dokter gigi

Hal-hal yang harus diperhatikan oleh Dokter gigi dalam penanggulangan tingkah laku anak adalah

- Dokter gigi dan perawatnya

Sopan–Ramah dan berpakaian rapi. Penampilan dokter gigi yang menarik, bersih dan rapi serta dukungan peralatan yang modern dan desain ruang praktek yang baik dapat memperoleh kepercayaan pasien khususnya anak-anak. sebagai dokter gigi kita harus mengetahui prinsip-prinsip tentang tumbuh–kembang anak (kompleks) untuk membantu operator dalam me memanajemen atau pengelolaan penderita anak-anak. Pada umumnya dokter gigi harus bersikap ramah, sopan, tulus, dan percaya diri. Control suara (voice control) dokter gigi merupakan hal penting dalam mengatur tingakah laku anak. Tekanan dan nada dalam berbicara akan menentukan reaksi anak yang baik atau tidak baik.

Keberhasilan perawatan juga harus didukung oleh keterampilan dan profesional kerja dokter gigi, sehingga kavitas dapat dipreparasi dan diisi tanpa ragu-ragu dengan prosedur yang tepat. Hal ini tentu saja akan membuat pasien anak cemas dan takut, yang berhubungan dengan kunjungan berikutnya. Ketepatan dalam memilih bur dan instrument untuk preparasi kavitas dapat mempersingkat waktu kerja sehingga lebih efisien.

Dalam mengerjakan pasien anak, operator harus lebih berhati-hati. Penampakan seperti instrument berdarah, serbet, sarung tangan, jas putih akan membuat pasien anak takut. Sebaiknya instrument seperti chisels, bur, dan forceps yang biasa diperlihatkan hendaknya disimpan untuk meminimalisir ketakutan anak, dan dikeluarkan apabila memang benar-benar diperlukan.

Begitu pula dengan perawat gigi atau asisten dokter gigi diharapkan berkompeten, ramah, rapi, dan menarik diharapkan pada praktek modern dokter gigi.

Ia adalah orang yang pertama kali dijumpai oleh orang tua dan pasien anak. Pembicaraan melalui telepon yang membicarakan tentang pertama kali penyakit diperoleh dan tujuannya akan mempengaruhi hubungan antara dokter gigi-orang tua dan pasien. Warna seragam juga harus diperhatikan, warna terpilih seperti abu-abu, biru, dan hijau muda sangat dianjurkan.

- Kunjungan ke dokter gigi dan waktu yang diberikan

Keberhasilan perawatan didukung pula oleh perjanjian yang dibuat, dan usahakan saat pasien anak menunggu di ruang tunggu tidak terlalu lama. Jika terlalu lama menunggu pada ruang tunggu akan mempengaruhi kondisi psikologis anak dan orang tua. Perjanjian yang baik dapat diatur oleh anak, orang tua, dan dokter gigi. Menurut rekomendasi dari The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) dan American Dental Association (ADA), seorang anak harus mulai melakukan kunjugan ke dokter gigi setelah gigi sulung pertamanya erupsi dan tidak boleh lebih dari usia 12 bulan. Rekomendasi ini ditujukan untuk mendeteksi dan mengontrol berbagai patologi gigi, terutama karies gigi yang merupakan penyakit mulut yang paling prevalen pada anak-anak dan dapat terjadi segera setelah gigi erupsi. Selain itu, rekomendasi ini juga didasarkan pada penetapan dasar pendidikan preventif dan perawatan gigi pada anak untuk mendapatkan kesehatan mulut yang optimal pada masa kanak-kanak hingga dewasa. Pada saat pertama kali anak mengunjungi dokter gigi, mungkin sebelumnya anak pernah mendengar cerita dari kakak atau temannya yang dapat membuat anak merasa takut. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Rasa takut merupakan suatu mekanisme perlindungan diri dan bukan merupakan gejala abnormal, karena secara naluriah seorang anak merasa takut terhadap sesuatu yang asing baginya. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan pengertian juga kepercayaan yang kurang terhadap dirinya sendiri serta anak sering memutarbalikkan dan membesar-besarkan kenyataan, sehingga ia melihat bentuk-bentuk bahaya yang sebenarnya tidak ada.

Apabila anak mengunjungi dokter gigi dalam keadaan mulut yang sehat, maka jangan membuat anak duduk di kursi gigi terlalu lama, karena hal ini akan memengaruhi tingkah laku anak. Anak dapat merasa bosan dan akan memengaruhi untuk kunjungan berikutnya. Jangan mengajak anak ke dokter gigi saat anak dalam keadaan lelah, karena hal ini akan membuatnya mengantuk dan susah diatur. Sebaiknya untuk pasien rata-rata muda (average young) dibutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sedangkan untuk pasien anak usia 2-3 tahun dibutuhkan maksimal 30 menit (tergantung juga dari perawatan yang diperlukan dan perilaku anak).

- Komunikasi efektif

Pengembangan hubungan dokter-pasien (anak) secara efektif yang berlangsung secara efisien, dengan tujuan utama penyampaian informasi atau pemberian penjelasan yang diperlukan dalam rangka membangun kerja sama antara dokter dengan pasien. Komunikasi yang dilakukan secara verbal dan nonverbal menghasilkan pemahaman pasien terhadap keadaan kesehatannya, peluang dan kendalanya, sehingga dapat bersama-sama dokter mencari alternatif untuk mengatasi permasalahannya.

Ada empat langkah yang terangkum dalam satu kata untuk melakukan

komunikasi, yaitu SAJI (Poernomo, Ieda SS, Program Family Health Nutrition, Depkes RI, 1999).

S = Salam

A = Ajak Bicara

J = Jelaskan

I = Ingatkan

Secara rinci penjelasan mengenai SAJI adalah sebagai berikut.

Salam:

Beri salam, sapa dia, tunjukkan bahwa Anda bersedia meluangkan waktu untuk

berbicara dengannya.

Ajak Bicara:

Usahakan berkomunikasi secara dua arah. Jangan bicara sendiri. Dorong agar Pasien (anak) mau dan dapat mengemukakan pikiran dan perasaannya. Tunjukkan bahwa dokter menghargai pendapatnya, dapat memahami kecemasannya, serta mengerti perasaannya. Operator dapat menggunakan pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam usaha menggali informasi. Operator dapat menggali informasi lebih banyak dari orang tua anak.

Jelaskan:

Beri penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya, yang ingin diketahuinya, dan yang akan dijalani/dihadapinya agar ia tidak terjebak oleh pikirannya sendiri. Luruskan persepsi yang keliru. Berikan penjelasan mengenai penyakit, terapi, atau apapun secara jelas dan detil.

Ingatkan:

Percakapan yang dokter lakukan bersama pasien mungkin memasukkan berbagai materi secara luas, yang tidak mudah diingatnya kembali. Di bagian akhir percakapan, ingatkan dia untuk hal-hal yang penting dan koreksi untuk persepsi yang keliru. Selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti benar, maupun klarifikasi terhadap hal-hal yang masih belum jelas bagi kedua belah pihak serta mengulang kembali akan pesan-pesan kesehatan yang penting.

- Dapat menahan diri

Seorang dokter gigi hendaknya dapat menahan diri atau lebih sabar dalam menghadapi tingkah laku pasien terutama anak-anak. Operator diharapkan tetap tenang dan bisa mengontrol emosinya yang berlebihan apabila perilaku anak tidak koperatif. Jangan membuat anak menjadi takut karena tindakan emosional kita. Operator diharapkan tidak mempunyai sikap temperamental karena hal tersebut akan membuat anak menjadi takut untuk kunjungan selanjutnya. Apabila kita sebagai dokter gigi umum tidak mampu menontrol tingkah laku anak dan gugup, lebih baik anak dirujuk ke dokter gigi spesialis anak.

- Pengetahuan penderita

Saat ini motivasi dokter dalam pelayanan kesehatan yang mulai bergeser dari keinginan untuk menolong sesama manusia menjadi kepentingan bisnis, menyebabkan terjadinya cara pelayanan dokter yang tidak komunikatif dan kurang simpatis, kurangnya pengetahuan pasien – dokter tentang hak dan kewajibannya masing-masing, kurangnya inform consent, dan sebagainya.

Masyarakat semakin kritis dan memandang masalah yang ada termasuk pelayanan yang diberikan dibidang kesehatan. Masyarakat kini menuntut agar seorang dokter atau instansi kedokteran / kesehatan yang lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan segala tindakannya.

Anak harus segera ditanggapi secara terbuka, jujur, dan empati. Jelaskan kepada anak dan orang tua apa yang sebenarnya terjadi. Permintaan informasi formal dari pihak yang berkepentingan tentang keluhan pasien harus ditanggapi secara teratur. Dokter gigi juga jangan bersikap arogan, judes, patronizing terhadap pasien sehingga sulit diajak berkomunikasi, karena pasien berhak mendapatkan informasi mengenai tentang penyakit yang dideritanya.

- Pengetahuan dan keterampilan dokter gigi

Sebagai profesional, keterampilan dokter merupakan salah satu kompetensi yang harus di kuasai dokter gigi karena akan menentukan keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien. Dokter gigi yang baik harus dapat melaksanakan kewajibannya yaitu melakukan perawatan dengan baik dengan meminimalkan rasa sakit.

Selain keterampilan, pengetahuan juga berkaitan erat dalam menjalankan professional kerja. Keberhasilan dari perawatan dipengaruhi kekayaan (wawasan) pengetahuan pihak operator. Semakin dlm operator menguasai masalah, akan semakin baik dlm memberikan uraian-uraian serta semakin cepat juga untuk menyelesaikan sutau perawatan.

- Health clubs and gifts

Berikan hadiah atau souvenir untuk anak-anak sebagai tanda persahabatan antara dokter gigi dan anak. Hadiah ini tidak digunakan sebagai “suapan”, hadiah diberikan secara Cuma-Cuma dari dokter gigi untuk anak. Tidak ada kerugian memberikan souvenir pada anak, tindakan ini akan menimbulkan suatu reaksi psikologik yang baik, yang akan menguntungkan dokter gigi dalam keberhasilan perawatan.

  • Menunda perawatan

Menunda perawatan sebaiknya jangan dilakukan. Jangan menunggu anak sampai menjadi berani, hal ini akan merugikan operator apabila sikap anak tak berubah dan kerusakan bertambah parah.

Bila terpaksa ditunda jangan terlalu lama dan beri penjelasan mengapa perawatan harus ditunda. Beri pengarahan juga pada orang tua untuk mengatasi rasa takut anak, agar apabila perawatan ditunda, untuk kunjungan berikutnya anak tidak takut.

  • Ruang Tunggu dan Ruang Praktek

Kecemasan pasien anak terhadap perawatan gigi sering kali timbul karena anak merasa takut berada di ruang praktik dokter gigi. Ruangan praktik dokter gigi sebaiknya dibuat senyaman mungkin sehingga anak merasa seperti di rumahnya sendiri. Ruangan praktik tersebut dibedakan antara ruang tunggu dan ruang perawatan. Jika tempat praktik tidak terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metode yang efektif di antaranya adalah dengan pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa khusus untuk anak. Membuat ruang penerimaan yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya, oleh karena itu dekorasi ruangan sangat memegang peranan penting dan erat kaitannya dengan kondisi psikologis mereka.

- Dekorasi yang tidak menakutkan

- Suasana yang menyenangkan

- Pintumasuk–keluar

- Ruang tunggu

Ruang tunggu merupakan faktor utama untuk timbulnya rasa cemas.

Pemandangan di sekitar ruang praktik yang dilihat oleh pasien sangat penting. Pamflet dan poster di dalam ruang tunggu dapat memberikan efek negatif pada pasien karena gambar monster yang aneh digunakan dalam pamflet atau poster. Susunan alat-alat, alat, bor, dan instrumen lain yang dapat menakuti pasien harus dijauhkan dari pandangan pasien. Suara juga dapat menimbulkan rasa takut pasien. Ruang praktik diusahakan tidak terlalu dekat dengan ruang tunggu. Pasien biasanya mengatakan bahwa kecemasan mereka sampai pada puncaknya ketika menunggu di ruang tunggu. Menghadapi bayangan yang mungkin terjadi seringkali lebih buruk daripada kejadian itu sendiri. Pasien biasanya mengatakan bahwa kecemasan mereka lebih tinggi ketika menunggu di ruang tunggu daripada ketika mereka sudah duduk di unit kursi gigi. Menghadapi bayangan yang akan terjadi seringkali lebih buruk daripada kejadian itu sendiri. Suatu perilaku anak yang tidak kooperatif pada ruang perawatan gigi biasanya dipicu oleh perasaan untuk menghindari keadaan yang tidak menyenangkan dan rasa sakit yang mungkin akan terjadi, serta ditafsirkan olehnya sebagai ancaman bagi kesehatannya. Pada saat anak memasuki ruang perawatan gigi dengan sejumlah perasaan takut, hal yang pertama harus dilakukan oleh dokter gigi adalah menempatkan anak senyaman mungkin dan mengarahkannya bahwa pengalamannya ini bukanlah hal yang tidak biasa. Jika tempat praktik tidak terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metode yang efektif di antaranya adalah dengan pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa berada di lingkungan rumahnya sendiri. Membuat ruang penerimaan yang nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya, oleh karena itu dekorasi ruangan sangat memegang peranan penting dan erat kaitannya dengan kondisi psikologis mereka. Musik yang lembut dapat memberikan efek baik pada orang tua maupun anak dalam memecahkan keheningan di ruang tunggu. Bahan-bahan bacaan yang disediakan di ruang tunggu tidak saja buat anak-anak, tetapi juga buat orang tuanya. Sediakan pula kursi dan meja kecil bagi anak untuk duduk dan membaca. Buku-buku disediakan untuk semua usia anak. Selain buku bacaan, dapat disediakan juga buku aktivitas, seperti buku mewarnai.

- Ruang Perawatan

Tempat praktik yang tidak terbatas hanya untuk pasien anak-anak, salah satu metoda yang efektif di antaranya adalah dengan pembuatan ruang tunggu yang dibuat sedemikian rupa sehingga anak merasa berada di lingkungan rumahnya sendiri. Ruang penerimaan dibuat nyaman dan hangat sehingga anak merasa tidak asing ketika memasukinya, oleh karena itu dekorasi ruangan sangat memegang peranan penting dan erat kaitannya dengan kondisi psikologis mereka, sehingga banyak kecurigaan dari anak akan menjadi hilang. Salah satu jalan yang paling sederhana untuk melakukan ini adalah dengan membuat satu sudut ruang tunggu yang khusus untuk mereka sendiri. Memiliki meja dan kursi anak-anak sehingga mereka dapat duduk dan membaca. Perpustakaan kecil dengan buku untuk anak-anak untuk berbagai tingkatan usia. Menyiapkan beberapa majalah anak-anak yang bagus; menjadikan seorang dokter gigi berlangganan majalah anak secara berkala. Menyediakan suatu lampu kecil di atas meja dengan suatu keremangan yang menarik. Beberapa mainan sederhana tapi kokoh menjadi sebuah pilihan yang baik untuk ditempatkan diruangan tersebut untuk menghibur anak yang paling kecil. Ruang perawatan dapat membuat lebih menarik bagi anak-anak dengan menempatkan beberapa gambar-gambar di atas dinding sehingga lebih menyenangkan bagi anak-anak ketika bermain. Dekorasi ruangan dapat diatur berdasarkan setting tertentu, misalnya seperti sirkus, luar angkasa, atau serial dan tokoh kartun yang sedang digemari anak. Dekorasi tersebut dapat memberikan kehangatan dan fantasi ruangan yang cenderung menghilangkan rasa takut. Selain itu, dapat pula diletakkan akuarium yang dapat terlihat oleh anak saat berada di kursi gigi. Akuarium selalu merupakan sumber hiburan bagi anak. Ruang perawatan dapat dipisahkan dengan ruang konsultasi. Selama anak dalam perawatan gigi, orang tua dapat menunggu di ruang konsultasi. Walaupun terpisah, sebaiknya ruang ini tidak dipisahkan oleh pintu yang tertutup sehingga anak dapat tetap merasakan kehadiran orang tuanya. Ruang perawatan dapat dibuat lebih menarik bagi seorang anak jika terdapat beberapa gambar anak-anak yang sedang bermain. Foto seorang anak sedang bermain bebas dan tertawa-tawa dapat memberikan sugesti positif bagi seorang anak. Diusahankan pula untuk menata ruangan agar anak tidak melihat pasien dewasa kesakitan saat dalam perawatan atau melihat darah padanya. Pasien lain yang terlihat dengan mata memerah karena habis menangis dapat mempengaruhi emosi anak. Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya jika dapat dibuat pintu keluar dan pintu masuk yang berbeda. Warna dinding ruangan, kursi gigi, dan perlengkapan lainnya dapat memberikan efek pada anak. Warna-warna yang lembut dan cerah akan memberikan efek menenangkan dibandingkan warna-warna terang dan menyala. Selain itu, dapat pula diberikan paduan warna yang serasi sehingga anak cenderung untuk tetap tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar